Entah sanksi apa yang akan diberikan PSSI dan Komdis untuk Persib. Keputusan tersebut akan dikeluarkan pekan depan. Di tengah hujannya ide sanksi dari berbagai pihak -yang rata-rata menyudutkan Persib-, akhirnya ada juga ide sanksi yang masuk akal yang keluar dari pikiran waras dan netral.
Sumber ; Pihak Ketiga
Ide sanksi ini keluar dari pemikiran seorang jurnalis senior harian ternama dan pengamat sepakbola, Budiarto Shambazy. Sanksi yang dilontarkan Budiarto, keluar dari pengamatannya atas apa yang terjadi. Di mana elemen yang diamati adalah pelaku, tempat, waktu, dan juga hal teknis.
Menurut penilaian Budiarto, sebagaimana dilansir dari Viva.co.id, Persib tidak bersalah sepenuhnya atas tindakan suporter. Kerusuhan yang terjadi itu murni kriminal, terjadi diluar stadion. Jadi ini urusannya penonton, keamanan, dan panpel. Sangat tidak fair jika klub yang dihukum.
Lebih jauh, sanksi pengurangan poin yang dilontarkan Ponaryo Astaman dari APPI kepada Persib tidaklah wajar. Karena kerusuhan yang ditimbulkan suporter tidak menyentuh hal teknis di dalam lapangan."Pengurangan poin itu tidak ada hubungannya dengan kerusuhan. Jangan masuk ke ranah teknis karena tidak ada hubungannya dengan kekerasan suporter. Kecuali kalau hubungannya dengan tindakan tidak senonoh pemain dan ofisial," tuturnya.
Pengurangan poin juga berlaku bagi tim yang menunggak gaji pemain. Seperti yang pernah terjadi pada Madura United, Persegres Gresik United, PSIM dan Persiwa.Sanksi pengurangan poin bukan untuk kerusuhan suporter.
Menurut Budiarto, hukuman yang layak dan masuk akal bagi Persib kali ini adalah larangan bertanding tanpa suporter hingga akhir musim Liga 1 2018.
Bisa dilihat kejadiannya adalah di ring 3, cukup jauh dari stadion, dan terjadi 3 jam sebelum kick off. Dari data ini sebenarnya Komdis juga bukan wilayahnya, ini murni wilayah kepolisian. Maka, terlihat aneh jika banyak pihak lantas berlomba memberi argumen dan sanksi tanpa tahu hukumnya.Apa yang dilontarkan Budiarto sejalan dengan apa yang diucapkan manajer Bhayangkara FC, Sumardji. Dari Sport.detik.com, Sumardji meminta PSSI menjatuhkan sanksi yang memberi efek jera kepada suporter, dalam hal ini Bobotoh.
Menurut Sumardji, sanksi jangan melulu denda berupa uang. Sumardji mengusulkan agar Persib disanksi dengan larangan didukung Bobotoh dalam waktu lama, baik kandang maupun tanda. Bisa sampai akhir musim atau hingga musim depan.
Apa yang dibeberkan oleh kedua orang tersebut tentu lebih cerdas dan masuk akal ketimbang yang diusulkan oleh Ponaryo Astaman dan APPI-nya. Dengan mengatasnamakan APPI -asosiasi yang visinya hanya memberikan proteksi dan edukasi kepada pesepakbola professional Indonesia serta menjalin solidaritas antar pesepakbola- Ponaryo mengusulkan aneka sanksi untuk Persib.
"Pengurangan poin bisa jadi salah satu contoh hukuman, bertanding di luar, tanpa disertai penonton, itu bisa menjadi alternatif hukuman yang bisa diambil PT Liga Indonesia Baru, operator kompetisi. Banyak kasus yang bisa dijadikan referensi," ujar Ponaryo, dilansir dari Bolalob.com.Ada yang menarik dari ucapan Bung Popon. Di kalimat akhir, “Banyak kasus yang bisa dijadikan referensi”. Pertanyaannya, memang kasus-kasus sebelumnya yang serupa sudah sampai mana penangannannya?
Bagaimana dengan tewasnya Rangga, Lazuardi, Dani Maulana, Gilang, dan yang lainnya? Semua kasus itu terlupakan atau bahkan sengaja dilupakan.
Jika merujuk pada ucapan Bung Popon, “Banyak kasus yang bisa dijadikan referensi,” maka sudah sepatutnya jika kasus inipun mari kita lupakan!
Sumber : http://tz.ucweb.com/10_3aMDq
