Jika Pembekuan Liga Indonesia Lebih Dari 10 Hari, Inilah Langkah Antisipasi Persib Bandung

Nyawa manusia memang tiada harganya, namun sepakbola adalah hiburan yang secara global dicintai oleh mayoritas makhluk yang berakal. Indonesia kembali berduka usai tragedi yang menewaskan almarhum Harlingga Sirila, yang terjadi sebelum bentrokan klasik Persib Bandung menjamu Persija Jakarta.

Sumber : Pihak Ketiga

Sebagai imbas dari duka nasional tersebut, PT Liga Indonesia Baru (LIB) memutuskan untuk sementara menghentikan kompetisi Liga 1 2018 sampai batas waktu yang belum ditentukan. Nah, pembekuan sementara itu pastinya memiliki dampak bagi seluruh klub kontestan liga, termasuk sang pemuncak klasemen Persib Bandung.

"Mau satu minggu, dua minggu, atau bahkan satu bulan tidak masalah. Yang penting kami tahu kapan pembekuan sementara ini akan selesai. Kami harus membuat program ulang untuk persiapan ke pertandingan selanjutnya, " ucap Mario Gomez, seperti dikutip dari Goal (26/09/2018)Meskipun demikian, pelatih asal Argentina itu sudah menyusun langkah antisipasi andai saja pembekuan tersebut akan berlangsung lebih lama. "Yang pasti, sekarang kami bisa berlatih dengan baik. Mungkin, jika pembekuan ini lebih dari 10 hari, kami akan mencari tim untuk pertandingan persahabatan," jelasnya.

Persib sendiri masih kokoh di puncak klasemen sementara Liga 1 dengan mengumpulkan 44 poin dari 23 laga yang telah dijalani. Tim Maung Bandung tentu saja bukan satu-satunya klub yang merasakan dampak buruk dari dibekukannya kompetisi teratas tanah air. Seluruh klub pasti akan merubah program kerja mereka, termasuk dalam menego gaji pemain.

APPI, selaku asosiasi pesepakbola profesional Indonesia, sudah mengambil sikap untuk memboikot kompetisi Liga 1 sampai kasus Harlingga benar-benar selesai. Dilansir dari FourFourTwo (26/09/2018), Ponaryo Astaman sebagai manajer umum APPI mengutarakan, suporter mesti mendapat efek dari kasus yang menimpa Harlingga."Pengurangan poin bisa jadi salah satu contoh hukuman, bertanding di luar tanpa disertai penonton, itu bisa menjadi alternatif hukuman yang bisa diambil PT Liga Indonesia Baru, operator kompetisi. Banyak kasus yang bisa dijadikan referensi," katanya.

"Tapi yang harus tegas dilakukan PT Liga adalah hukuman yang bisa diambil sebisa mungkin lebih berat dari yang kemarin, sehingga tidak terulang lagi kejadian seperti ini. Terutama kepada suporter ada kesan bahwa yang merasakan hukuman itu suporter, bukan klubnya."

"Jika suporter merasakan dampak hukuman itu, niscaya mereka akan berpikir melakukan pelanggaran, karena tidak akan merugikan klub yang dicintai," tukas eks Persija Jakarta dan Borneo FC tersebut.

Poinnya, mantan kapten Garuda tersebut mengharapkan suporter di Indonesia untuk tidak lagi melakukan hal-hal negatif yang bisa merugikan orang lain maupun klub yang mereka dukung. Sepakbola Indonesia masih bisa berjalan, karena yang selayaknya dimatikan kekerasan dari oknum suporter yang tidak bertanggung jawab.